Sejak kecil Yosefh Tatarang sudah memiliki bakat dalam bidang musik, terbukti pada usia menginjak 4 tahun beliau sudah bisa memainkan alat musik okulele karena pada saat masa kecilnya musik keroncong dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka. Beliau selalu membawa okulele ke tempat bermain bersama teman-temannya. Selain memiliki bakat dalam seni, beliau juga berbakat dalam bidang olahraga. Akan tetapi karena kurangnya bimbingan dari orangtua akhirnya Yosefh Tatarang memilih untuk melanjutkan bakat musiknya. Pada saat mengecap pendidikan di tingkat SMP beliau dibelikan sebuah Gitar oleh orang tuanya. Beliau mempelajari gitar tersebut dengan sangat giat dan dengan bakat yang sudah ada sebelumnya Yosefh Tatarang dengan mudah dapat menguasai alat musik tersebut. Pada saat itu Yosefh Tatarang sudah dapat memainkan gitar diatas rata-rata anak seusianya karena beliau telah menguasai banyak akord dan pengembangannya. Ketika itu guru musik beliau, Suhaimi Nasution mengajak beliau untuk bekerja sama mengaransemen lagu mandailing “Ole Inang Baya”. Suhaimi Nasution termasuk orang yang mengajari beliau dalam hal musik secara non formal ketika sedang duduk-duduk di kedai kopi dengan menggunakan bungkus rokok sebagai kertas untuk menulis. Beliau belajar dengan Suhaimi Nasution yang merupakan tamatan sebuah institut seni di Jogja Jawa Tengah.

Kemudian ketika beliau duduk di bangku Sekolah Menengah Atas pada tahun 1960, beliau dibelikan sebuah biola. Beliau mempelajari sendiri alat musik tersebut dengan otodidak (tanpa diajari). Namun untuk pemain biola yang otodidak, permainan biola beliau sudah sangat baik pada saat itu, beliau sering tampil dalam berbagai acara di sekolah dan luar sekolah dengan alat musik tersebut. Akan tetapi karena pada saat itu biola hanya digunakan oleh group ronggeng, beliau kurang tertarik untuk meneruskan bakatnya dalam memainkan alat musik tersebut. Ketika duduk di bangku SMA beliau mulai menciptakan lagu dan belajar mengaransemen. Saat itu beliau pertama sekali mengaransemen lagu Padamu Negeri dan Maju Tak Gentar untuk diperlombakan pada lomba paduan suara antar SMA se-Kabupaten Asahan pada saat perayaan hari kemerdekaan Indonesia yang jatuh setiap tanggal 17 Agustus setiap tahunnya. Sejak duduk di bangku SMA beliau sudah menyukai lagu-lagu yang bergenre jazz dan semi jazz. Menurut beliau, banyak mendengar dan membahas lagu adalah salah satu modal utama dalam meningkatkan kreativitas dalam mengaransemen lagu khususnya lagu-lagu acapella yang menuntut variasi akord, harmoni dan ritem. Pada tahun 1963 ketika beliau kuliah di Akademi Perdagangan Pelayaran (APP) beliau menjadi seorang gitaris pada sebuah band yang bernama Sinsano Band. Nama band tersebut terinspirasi dari merk sebuah minuman keras. Beliau merasa sangat beruntung bergabung dengan band tersebut karena band tersebut beranggotakan pemain musik terbaik di Medan dan beliau bermain musik bersama band tersebut selama tujuh tahun.

Pengalaman Berkesenian

Pengalaman berkesenian beliau dimulai ketika beliau menyelesaikan pendidikan di akademi perdagangan pelayaran pada tahun 1967. Pada tahun 1975 beliau bermain musik di Malaysia selama enam minggu. Disana beliau menjadi pemusik untuk sebuah group tari. Pada tahun 1977 beliau menjadi pelatih sekaligus official kontingen Sumatera Utara dalam festival Bintang Radio Televisi. Pada saat itu kontingen Sumatera Utara hanya mendapatkan penghargaan dengan penampilan terbaik sedangkan yang menjadi juara adalah penyanyi solo pria Harvey Maliholo, Lex Trio dan Pahama Group. Beliau menjadi pelatih dan official dari tahun 1981 sampai dengan tahun 1998 pada acara yang sama yang dilaksanakan setiap tahun di Jakarta. Pada tahun yang sama beliau juga melakukan tour Indonesia bersama Orchestra Radio Televisi Medan. Pada tahun 1087 beliau menjadi pemain gitar dalam sebuah band yang mengiringi festival Internasional yaitu Asian Pop Singer di Jakarta. Pada tahun 1998 beliau menjadi pelatih dan official Judika Sihotang yang saat itu masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas mengikuti festival Bahana Suara Pelajar yang diproduseri oleh Mbak Tutut. Dalam bidang pertelevisian sebagai tempat bekerja beliau dari tahun 1975 sampai dengan tahun 2000, beliau pernah mengikuti asean TV Program Broadcasting Course di Manila pada tahun 1985.

Pada tahun 1995, Yosefh Tatarang menjadi pelatih sekaligus official kontingen Sumatera Utara pada Pesparawi Gereja Nasional yang dilaksanakan di Surabaya. Pada tahun 2006 beliau menjadi supervisor pelaksana lomba pada Pesparawi Gereja Nasional yang dilaksanakan di Medan. Kemudian pada tahun 2009 beliau kembali dipanggil oleh LPPD Sumatera Utara sebagai auditor, arranger dan pelatih vocal group kontingen Sumatera Utara untuk mengikuti Pesparawi Gereja Nasional di Samarinda, Kalimantan Timur. Pada saat itu vocal group kontingen Medan mendapatkan medali emas dan meraih peringkat ketiga nasional. Tahun 2004 beliau mengaransemen lagu “ Keluarga Kerajaan Allah” yang akan dibawakan oleh vocal group PGI Medan di Jakarta dan mendapatkan juara I. Pada bulan Pebruari 2006 Yosefh Tatarang membawa Dharma Wanita BUMN Medan dalam lomba paduan suara Dharma Wanita BUMN se-Indonesia dan mendapat juara I dengan lagu “Butet” hasil gubahan beliau. Di tahun yang sama, beliau bersama Dharma Wanita BUMN Medan diundang oleh Ibu Ani Yudhoyono untuk tampil di Istana Negara.

Diawal tahun 2009, beliau mengaransemen lagu daerah Sumatera Utara yang berjudul “Anakkonki” yang akan dibawakan oleh kontingen PLN Medan pada lomba vocal group PLN se-Indonesia di Jakarta. Pada lomba tersebut kontingen PLN Medan meraih juara I.  Pada tahun 2009 Yosefh Tatarang mengaransemen lagu Mars Indomaret yang diperlombakan oleh Indomaret dengan skala Nasional. Pada saat itu, lagu hasil arransemen beliau menjadi juara I untuk wilayah Sumatera Utara. Kemudian pada tahun 2010 vocal group Praise mendapat juara I wilayah Medan dan juara favorit Nasional di Balai Sarbini Jakarta pada acara yang sama dengan membawakan lagu mars indomaret dan lagu pilihan “Bimbi” hasil gubahan Yosefh Tatarang.

Beliau juga mengajar kelompok nasyd yang bernama KAHFI yang berdiri pada tahun 2001. Group tersebut beranggotakan para pekerja di kebun Gunung Pamela PTPN III. Pada tahun 2002 Kahfi diundang ke Melaka dan tampil di hadapan Perdana Menteri Malaysia dan setelah itu melaksanakan konser di auditorium UNIMED. Pada tahun 2003, seorang produser dari Malaysia menawarkan untuk rekaman di Synchrosound Studio 6 Kuala Lumpur –  Malaysia. Album Kahfi yang pertama selesai pada tanggal 21 Juli 2003 dan kemudian dikomersialkan di Malaysia. Kemudian album tersebut ditawarkan ke perusahaan rekaman   Aquarius  dan Musika Studio untuk dipasarkan di Indonesia. Akan tetapi pihak Aquarius dan Musika Menolak untuk memasarkan album tersebut karena menurut mereka album tersebut akan sulit masuk pasar. Setelah itu Kahfi kembali aktif melaksanakan pertunjukan di Medan.

Pekerjaan

Setelah menamatkan kuliah di Akademi Perdagangan Pelayaran pada tahun 1967, Yosefh Tatarang bekerja sebagai pemain musik di sebuah klub malam di Medan bersama bandnya. Beliau merasa nyaman dengan pekerjaan tersebut,  akan tetapi keluarga mendesak beliau untuk mencari pekerjaan lain yang lebih bagus dengan alasan kesehatan karena Yosefh Tatarang bekerja pada malam hari. Pada tahun 1970 Yosefh Tatarang bekerja di Belawan dengan latar belakang pendidikan yang telah dimilikinya ketika kuliah di bidang pelayaran dan beliau menyempatkan diri untuk tetap bekerja sebagai pemusik di klub malam. Beliau bekerja pagi sampai sore hari di pelabuhan belawan dan pada malam hari kembali bekerja bersama bandnya. Akan tetapi, seiring waktu berjalan Yosef Tatarang tidak merasa nyaman bekerja di Pelabuhan Belawan, karena beliau merasa terganggu dengan aktifitas bongkar muat yang ada di pelabuhan. Beliau tidak tega melihat para pekerja yang bekerja setiap hari mengangkati barang dari kapal yang baru bersandar di pelabuhan. Menurut beliau pekerjaan itu sangat susah dan hanya menghasilkan sedikit uang. Beliau sangat tidak tega melihat fenomena tersebut karena menurut beliau orang seni memiliki jiwa yang halus. Pada akhirnya beliau memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan tersebut dan melanjutkan pekerjaan sebagai pemain musik di klub malam bersama Sinsano band.

Pada tahun 1975 Yosef Tatarang dipanggil oleh stasiun Televisi Republik Indonesia (TVRI) untuk bekerja sebagai salah satu pegawai bidang kesenian. Pada saat itu TVRI ingin membuat sebuah orchestra besar, sehingga TVRI memanggil beberapa pemain musik yang handal di kota Medan. Setelah bekerja selama 4 tahun, Pada tahun 1979 TVRI mengeluarkan peraturan untuk mengangkat Yosef Tatarang sebagai karyawan tetap dengan status pegawai negeri bersama dengan tenaga kesenian lainnya. Dengan kesungguhan dan dedikasi yang sangat kuat, Yosefh Tatarang mendapatkan prestasi yang sangat baik dalam banyak seminar dan pendidikan yang dilaksanakan oleh TVRI Nasional di Jakarta. Kemudian pada tahun 1985 beliau diutus ke Filipina untuk kursus penyiaran bagian Culture Production on TV. Setelah bekerja selama 25 tahun sejak tahun 1975 sampai dengan tahun 2000 di TVRI, akhirnya Yosefh Tatarang pensiun pada tahun 2000 pada usia 56 tahun.

Setelah pensiun dari TVRI, Yosefh Tatarang tetap aktif dalam bidang seni yang tidak bisa hilang dari dirinya. Dalam kegiatan sehari-hari Yosefh Tatarang mengaransemen lagu dan melatih group vocal di gereja dan di luar gereja. Beliau aktif dalam kegiatan kerohanian termasuk mengajar kelompok pemuda pemudi gereja. Di luar gereja beliau mengajar vocal solo dan vocal group untuk berbagai event dan festival. Beliau pernah menjadi mentor dari penyanyi seriosa Tety Manurung dan penyanyi pop Judika Sihotang. Beliau sering dipanggil untuk melatih bintang radio RRI yang akan berangkat ke tingkat Nasional. Beliau juga tetap menjadi auditor dan pelatih kontingen Sumatera Utara dalam Pesparawi Gereja Nasional pada tahun 2006 dan 2009.

*semoga bermanfaat bagi kita semua

Tulisan ini merupakan kutipan dari karya ilmiah dalam bentuk skripsi yang disusun oleh Antony Lavinci, untuk meraih gelar sarjana di fakultas bahasa dan seni Universitas Negeri Medan.

Yosefh Tatarang lahir 02 Agustus 1944 di Kabanjahe dari pasangan Daud Tatarang dan Laurina Malemboris. Beliau merupakan anak tunggal laki-laki dari 6 (enam) bersaudara, diantara lima anak perempuan lainnya. Orang tua beliau berasal dari desa Manganitu Kabupaten Sanger Provinsi Sulawesi Utara. Yosefh Tatarang dikenal sebagai seorang arranger lagu acapella Nasional. Beliau mengaransemen lagu daerah, lagu pop dan lagu gerejawi sejak tahun 1967. Beliau menghabiskan masa kecil di Kabanjahe, menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar di Rantau Parapat kemudian pindah ke Tanjung Balai hingga menyelesaikan pendidikan sampai ke tingkat Sekolah Menengah Atas, sebelum melanjutkan kuliah di Medan.

Pendidikan

Yosefh Tatarang menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasarnya di Sekolah Rakyat No 2 Rantau Parapat dari tahun 1951 sampai dengan tahun1957. Kemudian beliau melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 1 Tanjung Balai pada tahun 1957 sampai dengan tahun 1960. Setelah itu beliau kembali melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri 1 Tanjung Balai pada tahun 1960 sampai tahun 1963. Setelah menamatkan pendidikan di tingkat SMA, beliau melanjutkan pendidikan di Akademi Perdagangan Pelayaran (APP) yang sekarang sudah berganti menjadi Akademi Maritim Indonesia (AMI). Beliau masuk di Akademi Perdagangan Pelayaran (APP) pada tahun 1963 dan kemudian menyelesaikan Ujian Negara pada tahun 1967. Dari penjelasan tentang pendidikan yang dimiliki oleh Yosefh Tatarang di atas, dapat diketahui bahwa beliau tidak memiliki latar belakang pendidikan musik. Beliau mempelajari alat musik secara otodidak dan belajar secara non formal kepada guru musik beliau ketika duduk di bangku SMP yaitu Suhaimin Nasution .

Latar Belekang Keluarga

Yosefh Tatarang mewarisi bakat dalam bidang musik dari sang ayah. Ayah beliau adalah seorang polisi berpangkat kapten yang juga adalah seorang penyanyi dan pemain cello. Selama masa tugas, sang ayah melatih paduan suara dan marching band di asrama polisi sedangkan sang ibu bekerja sebagai ibu rumah tangga. Yosefh Tatarang adalah anak pertama dari 6 orang bersaudara dan satu-satunya anak laki-laki dari pasangan Daud Tatarang dan Laurina Malemboris. Anak kedua adalah Dahliana Tatarang yang lahir pada tahun 1950. Anak ketiga adalah Mawarlina Tatarang (alm) yang lahir pada tahun 1952. Anak keempat adalah Roslina Tatarang (alm) yang lahir pada tahun 1954. Anak kelima adalah Mardiana Tatarang (alm) yang lahir pada tahun 1956 dan anak ke enam adalah Melatiana Tatarang yang lahir pada tahun 1958.

Yosefh Tatarang menikah tahun 1972 dengan mempersunting Yosephina dan dikaruniai tiga orang anak laki-laki yang ketiganya mewarisi bakat musik beliau. Anak pertama adalah Yoseano Tatarang yang lahir di Medan pada tanggal 01 November 1973. Yoseano Tatarang merupakan seorang pemusik yang berlatar belakang pendidikan Sarjana Ilmu Komputer. Setelah menikah, Yoseano Tatarang tinggal bersama sang ayah di Jl. Kapten M.Jamil Lubis No. 54 Bandar Selamat Medan. Yoseano menghidupi keluarga dengan menjadi pianis di hotel-hotel besar di Medan.

Anak kedua adalah Yose Rizal Tatarang, lahir pada 15 November 1974.  Bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang asuransi. Boleh dikatakan Yose Rizal Tatarang adalah anak yang paling mewarisi bakat mengaransemen dari sang ayah. Kegiatan mengaransemen lagu menjadi pekerjaan sampingan dari Yose Rizal Tatarang dengan melatih sebuah group acapella yaitu Acapella Praise yang sudah banyak menorehkan prestasi dalam berbagai festival. Beliau juga aktif dalam mengaransemen lagu pop dan rohani untuk berbagai keperluan. Selain mewarisi bakat mengaransemen dari sang ayah, Yose Rizal Tatarang sangat berbakat dalam cabang olahraga Karate. Yose Rizal Tatarang  Merupakan seorang karateka yang sudah mendapatkan banyak penghargaan dan pernah mewakili Sumatera Utara dalam Pekan Olahraga Nasional. Setelah meikah, Yose Rizal tinggal bersama orangtuanya. Anak ketiga dari Yosefh Tatarang adalah Yosekar Tatarang yang lahir di Medan pada 23 Mei 1980. Yosekar merupakan anak bungsu dari Yosefh Tatarang dan satu-satunya anak yang belum menikah. Yosekar berdomisili di Jakarta sebagai seorang entertainer. Yosekar merupakan salah satu personil dari Pentaboys, group vokal yang meniti karir di industri musik tanah air . Pentaboys merupakan group vocal acapella yang pernah menjuarai festival acapella tingkat Internasional di Rumania. Sebelum berganti nama menjadi Pentaboys, mereka bernama Anteroboys.

*semoga bermanfaat bagi kita semua

suka – sayang – cinta

Posted: February 5, 2012 in ARTIKEL, COLOURFULL LIFE

Saat kau MENYUKAI seseorang, kau ingin memilikinya untuk keegoisanmu sendiri. Saat kau MENYAYANGI seseorang, kau ingin sekali membuatnya bahagia dan bukan untuk dirimu sendiri. Saat kau MENCINTAI seseorang, kau akan melakukan apapun untuk kebahagiaannya walaupun kau harus mengorbankan jiwamu.

 

Saat kau MENYUKAI seseorang dan berada di sisinya maka kau akan bertanya,”Bolehkah aku menciummu?” Saat kau MENYAYANGI seseorang dan berada di sisinya maka kau akan bertanya,”Bolehkah aku memelukmu?” Saat kau MENCINTAI seseorang dan berada di sisinya maka kau akan menggenggam erat tangannya…

 

SUKA adalah saat ia menangis, kau akan berkata “Sudahlah, jangan menangis.” SAYANG adalah saat ia menangis dan kau akan menangis bersamanya. CINTA adalah saat ia menangis dan kau akan membiarkannya menangis di pundakmu sambil berkata, “Mari kita selesaikan masalah ini bersama – sama.”

 

SUKA adalah saat kau melihatnya kau akan berkata, “Ia sangat cantik dan menawan.” SAYANG adalah saat kau melihatnya kau akan melihatnya dari hatimu dan bukan matamu. CINTA adalah saat kau melihatnya kau akan berkata, “Buatku dia adalah anugerah terindah yang pernah Tuhan berikan padaku..”

 

Pada saat orang yang kau SUKAi menyakitimu, maka kau akan marah dan tak mau lagi bicara padanya. Pada saat orang yang kau SAYANGi menyakitimu, engkau akan menangis untuknya. Pada saat orang yang kau CINTAi menyakitimu, kau akan berkata, “Tak apa dia hanya tak tau apa yang dia lakukan.”

 

Pada saat kau SUKA padanya, kau akan MEMAKSANYA untuk menyukaimu. Pada saat kau SAYANG padanya, kau akan MEMBIARKANNYA MEMILIH. Pada saat kau CINTA padanya, kau akan selalu MENANTINYA dengan setia dan tulus…

 

SUKA adalah kau akan menemaninya bila itu menguntungkan. SAYANG adalah kau akan menemaninya di saat dia membutuhkan. CINTA adalah kau akan menemaninya di saat bagaimana keadaanmu.

 

SUKA adalah hal yang menuntut. SAYANG adalah hal memberi dan menerima. CINTA adalah hal yang memberi dengan rela.

Image

Leonardo da Vinci lebih dikenal karena lukisannya yang terkenal Mona Lisa dan Last Supper. Meskipun sebenarnya Leonardo lebih tepat disebut sebagai inventor, karena berbagai ide, konsep dan penemuan juga dilakukan pria asal Firenze, Italia ini.

Misalnya, beberapa pemikiran Leonardo terdapat dalam buku catatanya sebanyak 7.000 halaman.

Didalam buku itu juga terdapat sketsa tentang studi tubuh manusia. Pada zaman itu, anatomi tubuh manusia tak lebih dari sekadar kira-kira karena siapapun dilarang keras membedah jenazah. Dengan kenekatannya mencuri-curi kesempatan membedah-bedah tubuh orang mati, di kemudian hari tindakan yang tak lazim di zamannya ini memberikan kontribusi yang sangat besar bagi dunia kedokteran.

Kekaguman pada Leonardo bisa jadi menimbulkan pertanyaan, “bagaimana bisa seperti itu? Mengapa Leonardo sangat pintar?” Dan, ingin tahu bagaimana caranya? Mungkin kita harus mengembangkan 7 poin di bawah ini agar bisa sehebat Leonardo da Vinci.

Curiosita. Atau curiosity (english). Yaitu rasa penasaran, tak pernah puas dan ingin belajar terus tanpa henti. Seperti Leonardo yang terus mencari dalam hidupnya, kita harus mempunyai pikiran yang terbuka (open mind) atas segala hal sehingga bisa memperoleh banyak pengetahuan baru.

Dimostrazione. Dimostrazione adalah “komitmen untuk menguji pengetahuan melalui pengalaman, ketekunan, dan kesediaan untuk belajar dari kesalahan”.

Sensazione. Hal ini berarti “perbaikan terus-menerus dari indra, terutama penglihatan, sebagai sarana untuk menambah banyak pengalaman”. Itulah sebabnya salah satu motto Leonardo adalah saper vedere (mengetahui bagaimana melihat) di mana ia membangun karyanya dalam seni dan ilmu pengetahuan.

Cryptic. Bila diterjemahkan berarti “Samar”. Maksud samar di sini adalah “kesediaan untuk merangkul ambiguitas, paradoks, dan ketidakpastian”. Karakteristik terpenting dari kejeniusan da Vinci adalah kemampuannya untuk menangani rasa misteri (keingintahuan).

Arte / scienza. Arte / scienza adalah “pengembangan keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan seni, logika dan imajinasi”.

Berarti kita harus mengembangkan cara berpikir dengan “seluruh otak”. Pemetaan pikiran adalah metode yang kuat yang dapat membantu dalam menggabungkan logika dan imajinasi pada setiap aktivitas/pekerjaan dalam kehidupan.

Corporalità. Corporalità adalah “memelihara anugerah, keterampilan tangan, kebugaran, dan ketenangan”. Leonardo memiliki kemampuan fisik yang luar biasa dilengkapi kegeniusannya dalam sains dan seni. Bagi kita, hal tersebut bisa dilatih dengan pelatihan fisik, yoga, atau latihan-latihan spiritual.

Sebagai contoh, Leonardo bisa menulis dengan tangan kanan dan kiri. Selain bakat, tentunya hal ini bisa dilatih bila kita mau.

Connessione. Secara singkat dipahami sebagai : “Sistem berpikir.” Salah satu sumber utama dari kreatifitas Leonardo adalah kemampuannya untuk membentuk pola baru melalui kaitan dan kombinasi dari elemen yang berbeda.

Tertarik? Selamat mencoba. Jangan lupa poin pertama: Curiosita atau “pikiran yang terbuka” karena dengan dasar yang kuat inilah kita bisa mendapat banyak pengetahuan baru. Bila kita terlalu gampang menilai sesuatu karena “picik” atau “pikiran subyektif” wah, rasanya harus mulai membenahi diri dulu.

6 Cara Menambah Daya Ingat

Posted: February 5, 2012 in Uncategorized

Lupa dan ingat adalah dua hal yang paling sering dialami manusia sepanjang hidupnya. Dengan mengingat segala hal penting pastinya bisa membuat urusan kita lebih mudah, sebaliknya kalau sedikit-sedikit lupa dan lupa lagi, awas jadi orang yang cepat pikun.

Ada 6 cara yang bisa membantu kita menambah kemampuan mengingat. Semoga terapi berikut bisa membantu.

1. Bangun pagi dan cium rosemary.

Dalam sebuah penelitian tahun 2003, para psikolog meminta 144 relawan untuk melakukan serangkaian uji coba tentang ingatan jangka-panjang, cara kerja ingatan, dan uji reaksi dan perhatian. Beberapa orang melakukan tes itu di ruangan yang bebas bau, beberapa di ruangan dengan bebauan dari minyak esensi rosemary, dan sisanya bekerja dengan bebauan minya lavender.

Hasilnya, mereka yang bekerja di ruangan dengan memiliki hasil yang bagus dalam ingatan jangka panjang dan kerja ingatan dibandingkan dengan yang bekerja di ruangan tanpa bebauan, sementara yang bekerja di ruangan beraroma lavender lebih jelek dalam hal kerja ingatan. Lebih jauh, mereka yang bekerja di ruangan beraroma rosemary merasa lebih terjaga dibandingkan dengan mereka yang bekerja di ruangan kontrol (tanpa bebauan). Nah, yang bekerja di ruangan beraroma lavender ternyata lebih merasa mengantuk.

Wah, rupanya lavender memang bagus untuk mengusir nyamuk. Tapi efek sampingnya bisa membuat kita lebih suka tidur.

2. Makanan untuk berpikir

Untuk menjaga ingatan tetap muda meski otak mulai menua, ilmuwan menyarankan mengonsumsi makanan yang kaya akan antioksidan seperti blueberry, apel, pisang, sayuran berwarna hijau tua, bawang, dan wortel.

Antioksidan merupakan molekul yang dengan mudah mengikat dan menetralkan elektron yang disebut dengan “radikal bebas” yang berkeliaran secara bebas di aliran darah. Radikal bebas ini bertambah seiring usia dan bisa membunuh otak.

Yang kedua, sebagian besar otak terbuat dari lemak sehat, termasuk yang paling penting adalah omega-3. Agar supaya otak bisa memperbaiki dirinya sendiri dan menjadi neuron-neuron tersambung dengan benar, kita harus memberikan makanan yang tepat buat otak. Nah, omega-3 ditemukan di banyak jenis ikan dan kacang-kacangan.

3. Kunyah permen karet

Penelitian pada tahun 2002 yang dilakukan di Inggris menemukan bahwa mengunyah permen karet memberikan hasil yang lebih baik pada uji ingatan jangka-panjang dan jangka pendek dibandingkan dengan mereka yang tidak mengunyah apa-apa.

Para ilmuwan menduga, tindakan mengunyah permen karet akan menghasilkan air liur yang meningkatkan denyut jantung; atau ia mempengaruhi fungsi daerah otak yang diberi nama hippocampus yang menyebabkan tubuh melepaskan insulin sebagai persiapan untuk metabolisme makanan.

4. Permainan otak

Sebuah program yang disebut dengan Lumosity, dikembangkan dengan bantuan ilmuwan saraf dan psikolog kognisi dari Standford University dan University of California di San Francisco, secara khusus dirancang untuk orang tua yang ingin memperbaiki ingatan, konsentrasi, keterjagaan, dan bahkan mood mereka.

Tentu saja, selalu ada olahraga otak yang klasik dan murah meriah, seperti Sudoku dan teka-teki silang yang bisa ditemukan di mana saja. Latihan-latihan itu akan menggugah pengetahuan dan membantu saraf-saraf di otak saling bersambungan.

5. Tidur.

Dalam skala penelitian di lab menggunakan tikus, saat tikus tidur, dua area di otak – hippocampus dan medial prefrontal cortex, area yang berkaitan dengan pengambilan ingatan dari masa lalu (baik di manusia atau tikus) – berputar menayangkan kejadian-kejadian sepanjang hari itu. Proses ini dipercaya sangat penting untuk mengonsolidasikan dan merapikan file-file ingatan-ingatan baru yang terbentuk.

6. Berjalan kaki

Penelitian menunjukkan bahwa pusat ingatan di otak yang disebut hippocampus menyusut seiring usia. Namun penelitian pada tahun 2011 memberikan kabar bagus: orang dewasa yang beranjak tua yang rutin melakukan jalan kaki dapat mempertahankan volume hippocampus.

Penelitian yang dipimpin oleh Arthur Kramer dari University of Illinois-Urbana Champaign itu melibatkan 60 orang dewasa berusia 55 sampai 80 tahun. Mereka melakukan jalan kaki tiga kali seminggu masing-masing selama 40 menit.

Aktivitas yang cukup untuk meningkatkan denyut jantung mereka. Peserta lain sejumlah yang sama melakukan latihan pengencangan otot latihan beban, yoga, dan peregangan, dalam intensitas yang sama.

Setelah setahun pengencangan, anterior hippocampus peserta hilang sedikit di atas 1 persen dari volumenya, secara rata-rata. Sebaliknya, setahun latihan aerobik membuat peningkatan sekitar 2 persen pada volume anterior hippocampus, membalikkan penuaan alami hippocampus selama sekitar dua tahun.

Ilmuwan percaya bahwa hal itu disebabkan oleh imbas latihan yang menimbulkan stres ringan yang memicu produksi faktor pertumbuhan di otak. Kemungkinan juga karena aliran darah yang lebih besar ke otak sehingga semakin banyak nutrisi dan oksigen yang dihantarkannya.

Saat kau MENYUKAI seseorang, kau ingin memilikinya untuk keegoisanmu sendiri. Saat kau MENYAYANGI seseorang, kau ingin sekali membuatnya bahagia dan bukan untuk dirimu sendiri. Saat kau MENCINTAI seseorang, kau akan melakukan apapun untuk kebahagiaannya walaupun kau harus mengorbankan jiwamu.

 

Saat kau MENYUKAI seseorang dan berada di sisinya maka kau akan bertanya,”Bolehkah aku menciummu?” Saat kau MENYAYANGI seseorang dan berada di sisinya maka kau akan bertanya,”Bolehkah aku memelukmu?” Saat kau MENCINTAI seseorang dan berada di sisinya maka kau akan menggenggam erat tangannya…

 

SUKA adalah saat ia menangis, kau akan berkata “Sudahlah, jangan menangis.” SAYANG adalah saat ia menangis dan kau akan menangis bersamanya. CINTA adalah saat ia menangis dan kau akan membiarkannya menangis di pundakmu sambil berkata, “Mari kita selesaikan masalah ini bersama – sama.”

 

SUKA adalah saat kau melihatnya kau akan berkata, “Ia sangat cantik dan menawan.” SAYANG adalah saat kau melihatnya kau akan melihatnya dari hatimu dan bukan matamu. CINTA adalah saat kau melihatnya kau akan berkata, “Buatku dia adalah anugerah terindah yang pernah Tuhan berikan padaku..”

 

Pada saat orang yang kau SUKAi menyakitimu, maka kau akan marah dan tak mau lagi bicara padanya. Pada saat orang yang kau SAYANGi menyakitimu, engkau akan menangis untuknya. Pada saat orang yang kau CINTAi menyakitimu, kau akan berkata, “Tak apa dia hanya tak tau apa yang dia lakukan.”

 

Pada saat kau SUKA padanya, kau akan MEMAKSANYA untuk menyukaimu. Pada saat kau SAYANG padanya, kau akan MEMBIARKANNYA MEMILIH. Pada saat kau CINTA padanya, kau akan selalu MENANTINYA dengan setia dan tulus…

 

SUKA adalah kau akan menemaninya bila itu menguntungkan. SAYANG adalah kau akan menemaninya di saat dia membutuhkan. CINTA adalah kau akan menemaninya di saat bagaimana keadaanmu.

 

SUKA adalah hal yang menuntut. SAYANG adalah hal memberi dan menerima. CINTA adalah hal yang memberi dengan rela.

Image

Antara Selera, Jatidiri, Ambisi dan Identitas.

Sejumlah alat musik barat terlihat bergantungan menyombongkan diri diantara dingding marmer sebuah gedung. Maka kita bisa tau kalau itu adalah toko alat musik. Tapi seringkahkah kita menjumpai sebuah tempat dengan alat musik tradisional yang bergantungan ? dan juga menyombonkan diri ?

Konsumerisme alat musik barat jauh meninggalkan level alat musik tradisional. Jelas terlihat alat musik barat lebih menguasai industri dibanding alat musik tradisional. Entah karena selera para pelaku seni khusunya musik yang lebih cenderung lebih suka memainkan dan mendengar alat musik barat ?, atau jati diri mereka yang benar-benar terpatri untuk alat musik barat ?, atau ambisi mereka untuk menguasai alat musik barat dibandingkan tradisi?, atau hanya sekedar penguatan identitas karena tradisional terkesan jadul dan ketinggalan zaman? Pertanyaan-pertanyaan ini adalah alasan mengapa alat musik tradisional jarang kita jumpai. Koentjaraningrat mengatakan manusia berasal dari kelompok masyarakat komplek yang memiliki akal budi dan budaya. Apakah manusia sekarang sudah benar-benar jauh berbeda dengan dengan manusia dulu ? jika kita dapat menjumpai alat musik barat dimana-mana, lalu dimana kita dapat menjumpai alat musik tradisional? Kita hanya akan dapat menjumpainya di instansi pemerintah yang berhubunan dengan seni budaya, individu-individu yang benar-benar fanatik dengan budaya dan menjadikannya sebagai koleksi penghias dingding rumah, dan sejumlah pelaku seni musik tradisional yang terkadang juga hanya menggunakannya untuk bertahan hidup.

Sejak kapan dan sampai kapan?

Berkembang pesatnya teknologi dan pengaruh-pengaruh musik, membuat fakta ini semakin terlihat jelas.

Siapa saja yang akan memainkan alat musik tradisional ? dan siapa selanjutnya ?

HAU SANGKAMADEHA

Posted: May 3, 2011 in CULTURE

Pernahkah anda tau bahwa batak dulu sudah mengenal arti pohon kehidupan? Bila belum, inilah dia yang disebut Hau Sangkamadeha.

Biji berkecambah, tumbuh tunas dan mekar muda. Dahan mengembang ke samping, ke segenap penjuru angin, bagaikan tangan-tangan membentang “mandehai”. Tumbuh makin matang “matoras” dan semakin kuat “pangko”. Torasna jadi pangkona, diartikan kedewasaan yang dibarengi kebiasaan-kebiasaan hidup menjadi tabiat. Torasna jadi pangkona, somalna jadi bangkona.

Sangkamadeha mengartikan manusia mengekspresikan hidup dan kehidupannya dalam dunia nyata dengan segala kebanggaan dirinya. Kebanggaan terpuji adalah tabiat yang baik dan benar, sesuai hukum dan adat istiadat. Inilah kemudian disebut “hasangapon”. Cabang dan ranting yang banyak akan mempengaruhi kerimbunan dedaunan. Akar yang kokoh dan kerimbunan daun adalah gambaran “hatoropon” banyaknya populasi yang kemudian disebut “hagabeon”. Buah adalah biji disertai zat bermanfaat untuk pertumbuhan kelanjutannya dan stimulant kepada mahluk hidup untuk menyebarkannya. Ada buah, ada pemanfaat dan ada pertumbuhan, dan inilah yang disebut “hamoraon”.

Parjuragatan mengartikan tempat bergelantungan ke sumber penghidupan. Sumber penghidupan ada beragam, seperti apa yang memberikan secara langsung (material) dan tidak langsung (non-material). Pemimpin adalah “parjuragatan” dimana ditemukan keadilan dan pencerahan. Dia adalah “urat” akar hukum dan keadilan. Namora adalah juga parjuragatan karena “akar” memberikan kehidupan material, penyambung hidup.

Kekayaan dengan “banyaknya buah …” bila tidak ada manfaat bagi orang lain tidak akan ada yang berperan “menaburnya”. Dia akan seperti ilalang yang menebar biji oleh tiupan angin karena tidak ada memberi manfaat dari buahnya bagi mahluk lain.

Kekurangan harta disebut “napogos” miskin. Bila hartanya hanya cukup untuk bekal satu tahun disebut “parsaetaon” pra sejahtera. Bila sudah bisa menabung untuk cadangan pengembangan disebut “naduma” sejahtera. Bila harta sudah menumpuk disebut “paradongan”.
“Namora” adalah sebutan kehormatan untuk yang aktip menolong sesama dengan harta bendanya sendiri. Namora, juga jabatan yang disandang dalam “harajaon” yang diartikan sebagai bendahara. Kepada Raja dan Namora disebut “akar” dari hukum dan kehidupan; Raja urat ni uhum, Namora urat ni hosa.
Bila ada orang yang memiliki banyak harta tapi tega membiarkan manusia disekitarnya kelaparan, dia tidak dapat atau tidak disebut Namora tapi paradongan atau “pararta”.
Bila ada permohonan kepada seseorang untuk diberi Yang maha Kuasa “hamoraon”, adalah harta benda berikut hati yang iklas untuk mau dan mampu melakukan pertolongan kepada sesama manusia.

Sangkamadeha adalah penggambaran pohon kehidupan dan hidup yang diberikan Mulajadi Nabolon kepada manusia. Pohon ini sejak muda hingga tua tumbuh tegak lurus dan tajuknya menuju (sundung di… ) langit.
Hidup di dunia dalam pertengahan usia adalah perkembangan yang sangat subur dan optimal berkayanyata untuk dirinya dan orang lain. Hasangapon, hagabeon dan hamoraon adalah gambaran kesuburan yang dinikmatinya yang merupakan anugerah pencipta.
Menjelang ujur, tajuk semakin tinggi dan tetap menuju keatas. Dimasa tua upaya pencapaian “sundung dilangit” semakin terarah. Darisana awalnya datang dan berakhir pula disana. Inilah akhir hidup manusia, semua menuju kepenciptanya. Perjalanan kehidupan manusia akhirnya akan diakhiri dan “sundung” ke alam penciptaan. Semua yang diperoleh di alam nyata dunia fana akan ditinggalkan.

Ada yang membedakan Hau Sangkamadeha dengan Hau Parjuragatan dan Hau Sundung Dilangit. Menurut penjelasan beberapa orang tua dan pandai mengukir gorga bahwa penggambarannya adalah satu, tapi penjelasannya beragam.
Banyak yang memitoskan sebutan itu seperti pohon yang tumbuh di alam penciptaan sehingga banyak yang tidak memahami pemaknaan beberapa perkataan itu dalam satu penggambaran.

Pada rumah gorga lama, gambaran hau sangkamadeha ini selalu dilukiskan dalam dinding samping agak di depan. Dalam penggambarannya kadang ada yang menyertakan gambar burung dan ular membelit. Kayu yang berbuah selalu dihinggapi burung pemakan buah, dan kepohon itu pun ular datang untuk memangsa burung (marjuragat). Semua mahluk berhak hidup, seperti manusia diberi hidup menjadi bagian dari ekosistem. Namun, dari semua mahluk yang “marjuragat” dalam pohon hidup, hanya manusia yang memahami “sundung dilangit”.
Ada pemahaman lain yang mereka jelaskan bahwa dalam menjalani hidup harus cermat dan teliti karena banyak musuh yang mengintip.

Sejak pemahaman barat masuk ke batak dan mengetahui penjelasan dari Hau Sangkamadeha, ada anjuran untuk tidak membuat lukisan itu lagi dalam rumah adat batak. Pemahaman itu dianggap sesat. Sehingga kemudian banyak rumah adat batak dibangun tidak menggambarkan itu lagi tapi diganti dengan gambaran orang barat yang membawa hal yang baru yang cenderung menyesatkan budaya batak.

Ruma Batak

Posted: May 3, 2011 in CULTURE

Rumah adat bagi orang Batak didirikan bukan hanya sekedar tempat bemaung dan berteduh dari hujan dan panas terik matahari semata tetapi sebenanya sarat dengan nilai filosofi yang dapat dimanfaatkan sebagai pedoman hidup.

Beragam pengertian dan nilai luhur yang melekat dan dikandung dalam rumah adat tradisionil yang mestinya dapat dimaknai dan dipegang sebagai pandangan hidup dalam tatanan kehidupan sehari-hari, dalam rangka pergaulan antar individu.

Dalam kesempatan ini akan dipaparkan nilai flosofi yang terkandung didalamnya sebagai bentuk cagar budaya, yang diharapkan dapat menjadi sarana pelestarian budaya, agar kelak dapat diwariskan kepada generasi penerus untuk selalu rindu dan cinta terhadap budayanya.

Proses Mendirikan Rumah.

Sebelum mendirikan rumah lebih dulu dikumpulkan bahan-bahan bangunan yang diperlukan, dalam bahasa Batak Toba dikatakan “mangarade”. Bahan-bahan yang diinginkan antara lain tiang, tustus (pasak), pandingdingan, parhongkom, urur, ninggor, ture-ture, sijongjongi, sitindangi, songsong boltok dan ijuk sebagai bahan atap. Juga bahan untuk singa-singa, ulu paung dan sebagainya yang diperlukan.

Dalam melengkapi kebutuhan akan bahan bangunan tersebut selalu dilaksanakan dengan gotong royong yang dalam bahasa Batak toba dikenal sebagai “marsirumpa” suatu bentuk gotong royong tanpa pamrih.

Sesudah bahan bangunan tersebut telah lengkap maka teknis pengerjaannya diserahkan kepada “pande” (ahli di bidang tertentu, untuk membuat rumah disebut tukang) untuk merancang dan mewujudkan pembangunan rumah dimaksud sesuai pesanan dan keinginan si pemilik rumah apakah bentuk “Ruma” atau “Sopo”.

Biasanya tahapan yang dilaksanakan oleh pande adalah untuk seleksi bahan bangunan dengan kriteria yang digunakan didasarkan pada nyaring suara kayu yang diketok oleh pande dengan alat tertentu. Hai itu disebut “mamingning”.

Kayu yang suaranya paling nyaring dipergunakan sebagai tiang “Jabu bona”. Dan kayu dengan suara nyaring kedua untuk tiang “jabu soding” yang seterusnya secara berturut dipergunakan untuk tiang “jabu suhat” dan “si tampar piring”.

Tahapan selanjutnya yang dilakukan pande adalah “marsitiktik”. Yang pertama dituhil (dipahat) adalah tiang jabu bona sesuai falsafah yang mengatakan “Tais pe banjar ganjang mandapot di raja huta. Bolon pe ruma gorga mandapot di jabu bona”.

Salah satu hal penting yang mendapat perhatian dalam membangun rumah adalah penentuan pondasi. Ada pemahaman bahwa tanpa letak pondasi yang kuat maka rumah tidak bakalan kokoh berdiri. Pengertian ini terangkum dalam falsafah yang mengatakan “hot di ojahanna” dan hal ini berhubungan dengan pengertian Batak yang berprinsip bahwa di mana tanah di pijak disitu langit jungjung.

Pondasi dibuat dalam formasi empat segi yang dibantu beberapa tiang penopang yang lain. Untuk keperluan dinding rumah komponen pembentuk terdiri dari “pandingdingan” yang bobotnya cukup berat sehingga ada falsafah yang mengatakan “Ndang tartea sahalak sada pandingdingan” sebagai isyarat perlu dijalin kerja sama dan kebersamaan dalam memikui beban berat.

Pandingdingan dipersatukan dengan “parhongkom” dengan menggunakan “hansing-hansing” sebagai alat pemersatu. Dalam hal ini ada ungkapan yang mengatakan “Hot di batuna jala ransang di ransang-ransangna” dan “hansing di hansing-hansingna”, yang berpengertian bahwa dasar dan landasan telah dibuat dan kiranya komponen lainnya juga dapat berdiri dengan kokoh. Ini dimaknai untuk menunjukkan eksistensi rumah tersebut, dan dalam kehidupan sehari-hari. Dimaknai juga bahwa setiap penghuni rumah harus selalu rangkul merangkul dan mempunyai pergaulan yang harmonis dengan tetangga.

Untuk mendukung rangka bagian atas yang disebut “bungkulan” ditopang oleh “tiang ninggor”. Agar ninggor dapat terus berdiri tegak, ditopang oleh “sitindangi”, dan penopang yang letaknya berada di depan tiang ninggor dinamai “sijongjongi”. Bagi orang Batak, tiang ninggor selalu diposisikan sebagai simbol kejujuran, karena tiang tersebut posisinya tegak lurus menjulang ke atas. Dan dalam menegakkan kejujuran tersebut termasuk dalam menegakkan kebenaran dan keadilan selalu ditopang dan dibantu oleh sitindangi dan sijongjongi.

Dibawah atap bagian depan ada yang disebut “arop-arop”. Ini merupakan simbol dari adanya pengharapan bahwa kelak dapat menikmati penghidupan yang layak, dan pengharapan agar selalu diberkati Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam kepercayaan orang Batak sebelum mengenal agama disebut Mula Jadi Na Bolon sebagai Maha Pencipta dan Khalik langit dan bumi yang dalam bahasa Batak disebut “Si tompa hasiangan jala Sigomgom parluhutan”.

Di sebelah depan bagian atas yang merupakan komponen untuk merajut dan menahan atap supaya tetap kokoh ada “songsong boltok”. Maknanya, seandainya ada tindakan dan pelayanan yang kurang berkenan di hati termasuk dalam hal sajian makanan kepada tamu harus dipendam dalam hati. Seperti kata pepatah Melayu yang mengatakan “Kalau ada jarum yang patah jangan di simpan dalam peti kalau ada kata yang salah jangan disimpan dalam hati�.

“Ombis-ombis” terletak disebalah kanan dan kiri yang membentang dari belakang ke depan. Kemungkinan dalam rumah modern sekarang disebut dengan list plank. Berfungsi sebagai pemersatu kekuatan bagi “urur” yang menahan atap yang terbuat dari ijuk sehingga tetap dalam keadaan utuh. Dalam pengertian orang Batak ombis-ombis ini dapat menyimbolkan bahwa dalam kehidupan manusia tidak ada yang sempurna dan tidak luput dari keterbatasan kemampuan, karena itu perlu untuk mendapat nasehat dan saran dari sesama manusia. Sosok individu yang berkarakter seperti itu disebut “Pangombisi do ibana di angka ulaon ni dongan” yaitu orang yang selalu peduli terhadap apa yang terjadi bagi sesama baik di kala duka maupun dalam sukacita.

Pemanfaatan Ruangan

Pada bagian dalam rumah (interior) dibangun lantai yang dalam pangertian Batak disebut “papan”. Agar lantai tersebut kokoh dan tidak goyang maka dibuat galang lantai (halang papan) yang disebut dengan “gulang-gulang”. Dapat juga berfungsi untuk memperkokoh bangunan rumah sehingga ada ungkapan yang mengatakan “Hot do jabu i hot margulang-gulang, boru ni ise pe dialap bere i hot do i boru ni tulang.”

Untuk menjaga kebersihan rumah, di bagian tengah agak ke belakang dekat tungku tempat bertanak ada dibuat lobang yang disebut dengan “talaga”. Semua yang kotor seperti debu, pasir karena lantai disapu keluar melalui lobang tersebut. Karena itu ada falsafah yang mengatakan “Talaga panduduran, lubang-lubang panompasan” yang dapat mengartikan bahwa segala perbuatan kawan yang tercela atau perbuatan yang dapat membuat orang tersinggung harus dapat dilupakan.

Di sebelah depan dibangun ruangan kecil berbentuk panggung (mirip balkon) dan ruangan tersebut dinamai sebagai “songkor”. Di kala ada pesta bagi yang empunya rumah ruangan tersebut digunakan sebagai tempat “pargonsi” (penabuh gendang Batak) dan ada juga kalanya dapat digunakan sebagai tempat alat-alat pertanian seperti bajak dan cangkul setelah selesai bertanam padi.

Setara dengan songkor di sebelah belakang rumah dibangun juga ruangan berbentuk panggung yang disebut “pangabang”, dipergunakan untuk tempat menyimpan padi, biasanya dimasukkan dalam “bahul-bahul”. Bila ukuran tempat padi itu lebih besar disebut dengan “ompon”. Hal itu penyebab maka penghuni rumah yang tingkat kehidupannya sejahtera dijuluki sebagai “Parbahul-bahul na bolon”. Dan ada juga falsafah yang mengatakan “Pir ma pongki bahul-bahul pansalongan. Pir ma tondi luju-luju ma pangomoan”, sebagai permohonan dan keinginan agar murah rejeki dan mata pencaharian menjadi lancar.

Melintang di bagian tengah dibangun “para-para” sebagai tempat ijuk yang kegunaannya untuk menyisip atap rumah jika bocor. Dibawah para�para dibuat “parlabian” digunakan tempat rotan dan alat-alat pertukangan seperti hortuk, baliung dan baji-baji dan lain sebagainya. Karena itu ada fatsafah yang mengatakan “Ijuk di para-para, hotang di parlabian, na bisuk bangkit gabe raja ndang adong be na oto tu pargadisan” yang artinya kira-kira jika manusia yang bijak bestari diangkat menjadi raja maka orang bodoh dan kaum lemah dapat terlindungi karena sudah mendapat perlakuan yang adil dan selalu diayomi.

Untuk masuk ke dalam rumah dilengkapi dengan “tangga” yang berada di sebelah depan rumah dan menempel pada parhongkom. Untuk rumah sopo dan tangga untuk “Ruma” dulu kala berada di “tampunak”. Karena itu ada falsafah yang berbunyi bahwa “Tampunak ni sibaganding, di dolok ni pangiringan. Horas ma na marhaha-maranggi jala tangkas ma sipairing-iringan”.

Ada kalanya keadaan tangga dapat menjadi kebanggaan bagi orang Batak. Bila tangga yang cepat aus menandakan bahwa tangga tersebut sering dilintasi orang. Pengertian bahwa yang punya rumah adalah orang yang senang menerima tamu dan sering dikunjungi orang karena orang tersebut ramah. Tangga tersebut dinamai dengan “Tangga rege-rege”.

Gorga

Disebelah depan rumah dihiasi dengan oramen dalam bentuk ukiran yang disebut dengan “gorga” dan terdiri dari beberapa jenis yaitu gorga sampur borna, gorga sipalang dan gorga sidomdom di robean.

Gorga itu dihiasi (dicat) dengan tlga warna yaitu wama merah (narara), putih (nabontar) dan hitam (nabirong). Warna merah melambangkan ilmu pengetahuan dan kecerdasan yang berbuah kebijaksanaan. Warna putih melambangkan ketulusan dan kejujuran yang berbuah kesucian. Wama hitam melambangkan kerajaan dan kewibawaan yang berbuah kepemimpinan.

Sebelum orang Batak mengenal cat seperti sekarang, untuk mewarnai gorga mereka memakai “batu hula” untuk warna merah, untuk warna putih digunakan “tano buro” (sejenis tanah liat tapi berwana putih), dan untuk warna hitam didapat dengan mengambil minyak buah jarak yang dibakar sampai gosong. Sedangkan untuk perekatnya digunakan air taji dari jenis beras yang bernama Beras Siputo.

Disamping gorga, rumah Batak juga dilengkapi dengan ukiran lain yang dikenal sebagai “singa-singa”, suatu lambang yang mengartikan bahwa penghuni rumah harus sanggup mandiri dan menunjukkan identitasnya sebagai rnanusia berbudaya. Singa-singa berasal dari gambaran “sihapor” (belalang) yang diukir menjadi bentuk patung dan ditempatkan di sebelah depan rumah tersebut. Belalang tersebut ada dua jenis yaitu sihapor lunjung untuk singa-singa Ruma dan sihapor gurdong untuk rumah Sopo.

Hal ini dikukuhkan dalam bentuk filsafat yang mengatakan “Metmet pe sihapor lunjung di jujung do uluna” yang artinya bahwa meskipun kondisi dan status sosial pemilik rumah tidak terlalu beruntung namun harus selalu tegar dan mampu untuk menjaga integritas dan citra nama baiknya.

Perabot Penting

Berbagai bentuk dan perabotan yang bernilai bagi orang Batak antara lain adalah “ampang” yang berguna sebagai alat takaran (pengukur) untuk padi dan beras. Karena itu ada falsafah yang mengatakan “Ampang di jolo-jolo, panguhatan di pudi-pudi. Adat na hot pinungka ni na parjolo, ihuthononton sian pudi”. Pengertian yang dikandungnya adalah bahwa apa bentuk adat yang telah lazim dilaksanakan oleh para leluhur hendaknya dapat dilestarikan oleh generasi penerus. Perlu ditambahkan bahwa “panguhatan” adalah sebagai tempat air untuk keperluan memasak.

Di sebelah bagian atas kiri dan kanan yang letaknya berada di atas pandingdingan dibuat “pangumbari” yang gunanya sebagai tempat meletakkan barang-barang yang diperlukan sehari-hari seperti kain, tikar dan lain-lain. Falsafah hidup yang disuarakannya adalah “Ni buat silinjuang ampe tu pangumbari. Jagar do simanjujung molo ni ampehon tali-tali”.

Untuk menyimpan barang-barang yang bernilai tinggi dan mempunyai harga yang mahal biasanya disimpan dalam “hombung”, seperti sere (emas), perak, ringgit (mata uang sebagai alat penukar), ogung, dan ragam ulos seperti ragi hotang, ragi idup, ragi pangko, ragi harangan, ragi huting, marmjam sisi, runjat, pinunsaan, jugia so pipot dan beraneka ragam jenis tati-tali seperti tutur-tutur, padang ursa, tumtuman dan piso halasan, tombuk lada, tutu pege dan lain sebagainya.

Karena orang Batak mempunyai karakter yang mengagungkan keterbukaan maka di kala penghuni rumah meninggal dunia dalam usia lanjut dan telah mempunyai cucu maka ada acara yang bersifat kekeluargaan untuk memeriksa isi hombung. Ini disebut dengan “ungkap hombung” yang disaksikan oleh pihak hula-hula.

Untuk keluarga dengan tingkat ekonomi sederhana, ada tempat menyimpan barang-barang yang disebut dengan “rumbi” yang fungsinya hampir sama dengan hombung hanya saja ukurannya lebih kecil dan tidak semewah hombung.

Sebagai tungku memasak biasanya terdiri dari beberapa buah batu yang disebut “dalihan”. Biasanya ini terdiri dari 5 (lima) buah sehingga tungku tempat memasak menjadi dua, sehingga dapat menanak nasi dan lauk pauk sekaligus.

Banyak julukan yang ditujukan kepada orang yang empunya rumah tentang kesudiannya untuk menerima tamu dengan hati yang senang yaitu “paramak so balunon” yang berarti bahwa “amak” (tikar) yang berfungsi sebagai tempat duduk bagi tamu terhormat jarang digulung, karena baru saja tikar tersebut digunakan sudah datang tamu yang lain lagi.

“Partataring so ra mintop” menandakan bahwa tungku tempat menanak nasi selalu mempunyai bara api tidak pernah padam. Menandakan bahwa yang empunya rumah selalu gesit dan siap sedia dalam menyuguhkan sajian yang perlu untuk tamu.

“Parsangkalan so mahiang” menandakan bahwa orang Batak akan berupaya semaksimal mungkin untuk memikirkan dan memberikan hidangan yang bernilai dan cukup enak yang biasanya dari daging ternak.

Untuk itu semua maka orang Batak selalu menginginkan penghasilan mencukupi untuk dapat hidup sejahtera dan kiranya murah rejeki, mempunyai mata pencaharian yang memadai, sehingga disebut “Parrambuan so ra marsik”.

Tikar yang disebut “amak” adalah benda yang penting bagi orang Batak. Berfungsi untuk alas tidur dan sebagai penghangat badan yang dinamai bulusan. Oleh karena itu ada falsafah yang mengatakan “Amak do bulusan bahul-bahul inganan ni eme. Horas uhum martulang gabe uhum marbere”.

Jenis lain dari tikar adalah rere yang khusus untuk digunakan sebagai alas tempat duduk sehari-hari dan bila sudah usang maka digunakan menjadi “pangarerean” sebagai dasar dari membentuk “luhutan” yaitu kumpulan padi yang baru disabit dan dibentuk bundar. Tentang hal ini ada ungkapan yang mengatakan “Sala mandasor sega luhutan” di mana pengertiannya adalah bahwa jika salah dalam perencanaan maka akibatnya tujuan dapat menjadi terbengkalai.

Penutup

Nilai budaya itu sangat perlu dilestarikan dan hendaknya dapat ditempatkan sebagai dasar filosofi sebagai pandangan hidup bagi generasi penerus kelak. Ada pendapat yang mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai budayanya, karena itu Bangso Batak perlu menjaga citra dan jati dirinya agar keberadaannya tetap mendapat tempat dalam pergaulan hubungan yang harmonis.

Gurdong dan Lunjung

Posted: May 3, 2011 in CULTURE

Kedua nama ini adalah jenis belalang. Ada hal menarik bagi para leluhur batak tentang belalang ini saat mereka mencari filosofi hidup walau sudah mati. Belalang lebih banyak diam daripada bergerak, apalagi terbang. Belalang jarang menggerakkan kepalanya tanpa mengikutkan tubuhnya. Yang paling unik dalam temuan mereka adalah bila belalang mati kelihatannya seperti hidup. Ada dua hal yang membuat manusia sulit menebak hidup atau mati belalang bila hanya dari kejauhan. Pertama, belalang banyak diamnya. Kedua, bila mati, kepalanya tidak terkulai dan badannya tidak terjerembab. Metmet pe sihapor, dijujung do simanjujungna. Walau belalang kecil, kepalanya tetap dijunjung.
Ini berbeda dengan gajah, singa, harimau dan banyak jenis binatang lainnya yang bila sudah mati sangat jelas dalam pandangan mata.

Manusia batak memiliki pengharapan hidup setelah mati. Selain roh, arwah menjadi sahala, juga nama besar yang hidup setelah badannya mati. Pengharapan itu diukirkan dalam seni pahat pangganaon, dan filosofi hidup dan mati belalang itu dituanggan dalam paningaon yang memberikan makna kepada manusia agar kelak setelah mati akan tetap hidup, dalam arti nama baik dan kebesarannya semasih hidup.

Seni pahat pangganaon dan pemahaman makna paningaon membentuk ukiran berbentuk kepala belalang dalam sisi kiri dan kanan rumah batak. Dalam ruma diukir replikan belalang yang kepalanya runcing yang disebut sihapor lunjung. Pada sopo dibuatkan ukiran belalang yang kepalanya bulat yang disebut sihapor gurdong.

Setelah pemaknaan paningaon hilang, kedua bentuk ini disebut ulu gurdong tanpa ada upaya pelurusan. Yang paling mendasar lagi, kemudian kedua bentuk ini disebut singa-singa saja. Yang paling amburadul lagi, diberikan pemahaman baru bahwa itu gambaran dari singa yang melambangkan keperkasaan.